Tag Archives: CPO

KPF BALI

PT KONTAK PERKASA – Trump-Xi Jinping Sudah Telponan, Bagaimana Nasib Harga CPO?

PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 19/06/2019 – Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) menguat seiring adanya perkembangan positif terkait perang dagang Amerika Serikat (AS)-China. Namun proyeksi yang buruk atas ekspor minyak sawit bulan Juni masih membatasi kenaikan harga.

Pada perdagangan hari Rabu (19/6/2019) pukul 12:30 WIB, harga CPO acuan kontrak pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (BMDEX) menguat 0,05% ke level US$ 2.023/ton. Namun sejak awal tahun 2019, harga CPO masih tercatat melemah 4,62%.

Sentimen positif yang lahir dari tulisan Presiden AS, Donald Trump di Twitter membuat harapan peningkatan permintaan kembali mencuat.

PT KONTAK PERKASA

Trump mengatakan dirinya telah melakukan percakapan yang sangat positif dengan Presiden China, Xi Jinping melalui sambungan telepon. Dari percakapan tersebut, Trump juga mengonfirmasi pertemuannya dengan Xi Jinping di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada 28-29 Juni mendatang.

PT KONTAK PERKASA

Ini merupakan kabar yang telah ditunggu-tunggu oleh pelaku pasar. Pasalnya setelah Trump membatalkan rencana untuk menandatangani kesepakatan dengan China bulan lalu, tidak ada satupun sinyal positif terkait nasib perang dagang.

Bahkan perang bea impor yang sejatinya adalah permasalahan negara, telah merembet menjadi konflik korporasi. Negeri Paman Sam telah memasukkan penguasa teknologi 5G asal China, Huawei ke dalam daftar hitam (blacklist). Itu membuat perusahaan AS tidak dapat membeli produk Huawei tanpa adanya izin dari pemerintah.

Ternyata tidak hanya AS. Perusahaan-perusahaan lain di berbagai negara pun latah. Contohnya ARM, produsen Chip asal Inggris yang membatalkan kontrak pembelian sejumlah komponen buatan Huawei.

Trump juga telah berkali-kali menyuarakan niatnya untuk memberi tarif baru sebesar 25% pada produk China senilai US$ 325 miliar yang sebelumnya bukan objek perang dagang. Kantor Perwakilan Dagang AS juga tengah mengkaji dampak dari implementasi tarif tersebut pada konsumen.

Kini, perundingan dagang dua raksasa ekonomi dunia memasuki babak baru. Meski damai dagang yang hakiki tampaknya masih sangat jauh, setidaknya risiko eskalasi dapat sedikit diredam.

Perang dagang menjadi isu yang akan mempengaruhi aktivitas industri di seluruh dunia. Karena saat dua kekuatan ekonomi terbesar di planet bumi saling hambat urusan perdagangan, seluruh negara di berbagai penjuru juga kena dampaknya.

Aktivitas industri, akan melambat dan menurunkan proyeksi peningkatan permintaan. Sebagai informasi, minyak sawit banyak dipakai di industri makanan, minuman, kosmetik, serta farmasi.

Sementara itu pelaku pasar juga masih takut akan penurunan permintaan di bulan Juni.

Tiga surveyor kargo (Societe Generale Surveillance, Amspec Agri Malaysia, dan Intertek Testing Services) mengatakan bahwa ekspor minyak sawit Malaysia periode 1-15 Juni 2019 turun pada kisaran 15-22% dibanding periode yang sama bulan sebelumnya.

Penurunan ekspor tentu bukan berita baik bagi investor karena berpotensi mengerek inventori lebih tinggi lagi. Posisi inventori minyak sawit Malaysia per bulan Mei mencapai 2,44 juta ton atau lebih tinggi 11% dibanding tahun sebelumnya.

Peningkatan stok tentu saja akan membuat keseimbangan fundamental (pasokan-permintaan) di pasar akan semakin timpang. Harga pun akan mendapat beban tambahan.

Advertisements
KPF BALI

Sawit Dihadang Uni Eropa, Luhut: RI Akan Bereaksi Keras!

PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 20/03/2019 –  Pemerintah Indonesia tidak terima dengan rencana Uni Eropa yang mendiskriminasi sawit. Komisi Uni Eropa sedang merancang aturan menghapus secara bertahap penggunaan bahan bakar nabati/BBN (biofuel) berbasis minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) hingga 2030.

Rencana Uni Eropa ini akan menghantam industri sawit dalam negeri yang menjadi salah satu tumpuan perekonomian.
PT KONTAK PERKASA
Menko Bidang Maritim, Luhut B. Pandjaitan, mengatakan pemerintah bakal bereaksi keras menyikapi langkah Uni Eropa.
“Palm oil (minyak sawit) berhasil menurunkan kemiskinan ke bawah 10%. untuk kami, palm oil ini sangat penting menurunkan kemiskinan. Kami juga akan bereaksi dengan keras, kami bukan negara miskin dan kami punya potensi yang bagus,” kata Luhut dalam jumpa pers soal sawit di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Dalam jumpa pers, hadir Menko Perekonomian, Darmin Nasution dan Wakil Menteri Luar Negeri, AM Fachir.

Luhut menegaskan, diskriminasi sawit yang dilakukan Uni Eropa sangat tidak adil. Pemerintah Indonesia akan bertindak total untuk melawan hal tersebut.
“Presiden sangat keras mengenai hal ini dan beliau akan memberikan statement khusus mengenai hal ini,” jelas Luhut.
Bahkan dalam kesempatan itu, Luhut menyinggung soal rencana Indonesia memesan pesawat Airbus buatan Eropa dengan nilai lebih dari US$ 40 miliar. Bila hubungan dagang terganggu, bukan tidak mungkin Indonesia mengalihkan pesanan pesawat tersebut.

Sebagai latar belakang, dalam rancangan regulasi energi yang dinamakan Renewable Energy Directives II (RED II), Uni Eropa berencana menghapus penggunaan bahan bakar nabati/BBN (biofuel) berbasis CPO secara bertahap hingga 2030.

Pada 13 Maret lalu, Komisi Eropa mengesahkan Delegated Regulation no. C (2019) 2055 Final on High and Low ILUC Risk Criteria on Biofuels yang menyimpulkan bahwa perkebunan kelapa sawit telah mengakibatkan deforestasi besar-besaran.

PT KONTAK PERKASA

Hasil kajian Komisi Eropa menyatakan bahwa 45% dari ekspansi produksi CPO sejak 2008 telah berujung pada kehancuran hutan, lahan gambut (peatlands) dan lahan basah (wetlands) serta menghasilkan emisi gas rumah kaca secara terus-menerus.

Sebaliknya, kajian yang sama mengklaim hanya 8% dari ekspansi produksi minyak kedelai (soybean oil) dan 1% dari minyak rapeseed dan bunga matahari (sunflower) yang berkontribusi pada kerusakan yang sama.
Seperti diketahui, ketiga komoditas ini merupakan pesaing sawit dalam pasar minyak nabati global.

PT KONTAK PERKASA

Komisi Eropa sendiri menetapkan angka 10% sebagai batas untuk menentukan minyak nabati mana yang lebih berbahaya bagi lingkungan, dalam kriteria indirect land use change/ILUC yang disebut negara-negara produsen CPO seperti Indonesia dan Malaysia sebagai kriteria yang tidak diakui secara universal.

Smber : cnbcnews

Pasca rekor CPO alami koreksi sementara

PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 31/07/2017 – Harga minyak sawit mentah atawa crude palm oil (CPO) menguat dalam sepekan terakhir. Mengutip Bloomberg, Jumat (30/7) harga CPO untuk kontrak pengiriman Oktober 2017 di Malaysia Derivative Exchange melemah 0,82% ke level RM 2.655 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Ini setelah pada Kamis (29/7), CPO mencetak harga tertinggi dalam tiga bulan terakhir di posisi RM 2.677 per metrik ton. Dalam sepekan, minyak sawit terapresiasi 3,57%.

Research & Analyst Asia Tradepoint Futures, Deddy Yusuf Siregar menyebutkan, setelah dua minggu mengalami penguatan, koreksi muncul di akhir pekan dari aksi investor yang melakukan realisasi keuntungan. Selain itu ada sentimen negatif muncul terkait masalah ekspor CPO dari Indonesia ke Uni Eropa yang kembali terganjal.

Sekedar tahu saja, negara-negara Uni Eropa mengeluarkan aturan pembatasan masuknya CPO. Pembatasan tersebut dibuat karena dikhawatirkan produk CPOdan turunannya akan menyerbu masuk wilayah tersebut.

PT KONTAK PERKASA

“Pasar Eropa sepertinya lebih mengutamakan petani mereka. Ditakutkan, dengan masuknya CPO dianggap bisa menganggu petani di Eropa sana,” jelas Deddy.

Lebih lanjut, Deddy juga memprediksi adanya kemungkinan peningkatan pertumbuhan produksi dari Indonesia dan Malaysia untuk tahun 2018. “Ini bisa jadi katalis negatif bagi harga CPO untuk ke depannya karena pasokan berlimpah,” ujar Deddy.

Namun, ia juga melihat hingga saat ini tingkat permintaan CPO juga terus menanjak sehingga membuat harga masih kemungkinan stabil. Untuk jangka panjang, Deddy meramalkan CPO masih berpeluang bullish.

“Pertengahan Mei 2017, ada bahasan soal permintaan pasar China terkait program B5. China akan membutuhkan minyak sawit sebesar 9 juta ton, jadi ini masih menyeimbangkan antara produksi dan permintaan,” papar Deddy.

Asal tahu saja, pemerintah China akan menerapkan program biodiesel campuran 5% dengan solar atau disebut dengan B5. Kebijakan ini tentu dapat menjadi pasar potensial untuk meningkatkan ekspor minyak sawit. Angka permintaan 9 juta ton ini juga berasal dari perhitungan kebutuhan bahan bakar solar China sebesar 180 juta Kl.

Akan tetapi, Deddy memprediksi, Senin (31/7) harga minyak sawit masih akan mengalami sedikit koreksi di kisaran RM 2.640 – RM 2.600 per metrik ton. Sementara, di pekan depan harga cenderung menguat dengan rentang yang cukup lebar di RM 2.575 – RM 2.700 per metrik ton.

PT KONTAK PERKASA