Arsip Tag: komoditi

Bursa Asia masih terdampak tarif impor baja AS

PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 13/03/2018 – Bursa Asia bergerak mixed pada hari ini. Selasa (13/3) pukul 8.21 WIB, indeks Nikkei 225 turun 0,29% ke 21.760. Hang Seng pun terkoreksi tipis 0,08% ke 31.570.

Sedangkan Taiex dan Kospi naik masing-masing 0,50% dan 0,17%. Bursa Australia melemah 0,57% ke 5.961 dan Straits Times turun 0,10%.

 

PT KONTAK PERKASA

Harga saham produsen baja di Asia masih tertekan keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal tarif impor baja dan aluminium. “Kami menilai, produk baja dari Korea Selatan, Jepang, Vietnam, Thailand, Afrika Selatan, Australia, Uni Emirat Arab, dan Argentika paling berisiko di pasar AS,” ungkap perusahaan riset energi Wood Mackenzie dalam catatan yang dikutip CNBC.

Perusahaan riset ini menambahkan, negara-negara ini kemungkinan kecil untuk dikecualikan pada tarif impor.

Berikut agenda ekonomi di hari ini:
– Kredit perumahan Australia
– Penjualan ritel Malaysia
– Produksi industri kuartal keempat Hong Kong

KONTAK PERKASA FUTURES

Iklan

Pasca rekor CPO alami koreksi sementara

PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 31/07/2017 – Harga minyak sawit mentah atawa crude palm oil (CPO) menguat dalam sepekan terakhir. Mengutip Bloomberg, Jumat (30/7) harga CPO untuk kontrak pengiriman Oktober 2017 di Malaysia Derivative Exchange melemah 0,82% ke level RM 2.655 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Ini setelah pada Kamis (29/7), CPO mencetak harga tertinggi dalam tiga bulan terakhir di posisi RM 2.677 per metrik ton. Dalam sepekan, minyak sawit terapresiasi 3,57%.

Research & Analyst Asia Tradepoint Futures, Deddy Yusuf Siregar menyebutkan, setelah dua minggu mengalami penguatan, koreksi muncul di akhir pekan dari aksi investor yang melakukan realisasi keuntungan. Selain itu ada sentimen negatif muncul terkait masalah ekspor CPO dari Indonesia ke Uni Eropa yang kembali terganjal.

Sekedar tahu saja, negara-negara Uni Eropa mengeluarkan aturan pembatasan masuknya CPO. Pembatasan tersebut dibuat karena dikhawatirkan produk CPOdan turunannya akan menyerbu masuk wilayah tersebut.

PT KONTAK PERKASA

“Pasar Eropa sepertinya lebih mengutamakan petani mereka. Ditakutkan, dengan masuknya CPO dianggap bisa menganggu petani di Eropa sana,” jelas Deddy.

Lebih lanjut, Deddy juga memprediksi adanya kemungkinan peningkatan pertumbuhan produksi dari Indonesia dan Malaysia untuk tahun 2018. “Ini bisa jadi katalis negatif bagi harga CPO untuk ke depannya karena pasokan berlimpah,” ujar Deddy.

Namun, ia juga melihat hingga saat ini tingkat permintaan CPO juga terus menanjak sehingga membuat harga masih kemungkinan stabil. Untuk jangka panjang, Deddy meramalkan CPO masih berpeluang bullish.

“Pertengahan Mei 2017, ada bahasan soal permintaan pasar China terkait program B5. China akan membutuhkan minyak sawit sebesar 9 juta ton, jadi ini masih menyeimbangkan antara produksi dan permintaan,” papar Deddy.

Asal tahu saja, pemerintah China akan menerapkan program biodiesel campuran 5% dengan solar atau disebut dengan B5. Kebijakan ini tentu dapat menjadi pasar potensial untuk meningkatkan ekspor minyak sawit. Angka permintaan 9 juta ton ini juga berasal dari perhitungan kebutuhan bahan bakar solar China sebesar 180 juta Kl.

Akan tetapi, Deddy memprediksi, Senin (31/7) harga minyak sawit masih akan mengalami sedikit koreksi di kisaran RM 2.640 – RM 2.600 per metrik ton. Sementara, di pekan depan harga cenderung menguat dengan rentang yang cukup lebar di RM 2.575 – RM 2.700 per metrik ton.

PT KONTAK PERKASA

CPO masih tertekan saat Ramadhan

PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 12/06/2017 – JAKARTA. Para pelaku pasar sempat berharap permintaan minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) naik tinggi saat Ramadan sehingga harga CPO juga ikut melejit. Nyatanya, harapan tersebut tidak menjadi kenyataan.

Harga sawit masih cenderung tertekan. Sepanjang pekan lalu, harga CPO melemah sekitar 1,6%. Pelemahan harga sudah terjadi selama tiga pekan beruntun. Di akhir pekan lalu (9/6), harga CPO kontrak pengiriman Agustus 2017 di Malaysia Derivative Exchange naik 0,53% ke level RM 2.457 per metrik ton dibanding level penutupan hari sebelumnya.

Sedikit kilas balik, menjelang Ramadan, harga CPO sempat rebound ke kisaran RM 2.500RM 2.600 per metrik ton. Sebabnya, India, Pakistan dan Timur Tengah meningkatkan permintaan CPO untuk memenuhi kebutuhan Ramadan. Alhasil, stok CPO sempat sangat ketat. Di saat yang sama, pertumbuhan produksi ternyata lebih lambat ketimbang proyeksi.

Meski begitu, faktor tersebut tidak membawa harga CPO masuk ke tren bullish. “Masalah pasokan merupakan faktor utama yang belum mendukung harga,” kata Wahyu Tribowo Laksono, Analis Central Capital Futures, akhir pekan lalu.

Ancaman kelebihan pasokan memicu koreksi harga CPO. Sebab, badai El Nino yang menganggu produksi sawit telah berakhir.

Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan, produksi CPO Malaysia April lalu naik 5,7% ke 1,55 juta ton dari bulan sebelumnya. Hasil survei Bloomberg memperlihat kan produksi Mei berpotensi naik 5,8% menjadi 1,64 juta ton. Data resmi MPOB akan dirilis 13 Juni mendatang.

Dalam jangka pendek, Wahyu memprediksi penguatan CPO terbatas pada kisaran RM 2.500-RM 2.600 per metrik ton. Bila terjadi koreksi, harga bisa turun ke level RM 2.300.

PT KONTAK PERKASA FUTURTES

Kurs ringgit

Putu Agus Pransuamitra, Research & Analyst Monex Investindo Futures, mengatakan, kenaikan permintaan CPO di bulan Ramadan tidak sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun harga CPO masih berpeluang menguat sepekan ke depan. “Penguatan harga didukung faktor teknikal, mengingat koreksi harga sudah cukup tajam,” papar dia.

Realisasi produksi dan permintaan akan tetap jadi sentimen utama penggerak harga. “Melihat kondisi fundamental saat ini, prospeknya cenderung negatif,” imbuh Putu.

Data Intertek Testing Service menunjukkan, ekspor CPO Malaysia periode 1-10 Juni juga mulai melambat, hanya naik 5,8% ke 366.994 ton dibanding periode sama bulan sebelumnya. Padahal, ekspor Mei tercatat naik 13,6%.

Untungnya, di saat yang sama, kurs ringgit melemah. Jika pada akhir tahun The Fed menaikkan suku bunga, maka nilai tukar ringgit berpotensi kembali tertekan. Kondisi ini dapat dimanfaatkan pelaku pasar untuk bargain hunting.

Putu memprediksi harga CPO di akhir semester pertama akan turun ke kisaran RM 2.380-RM 2.430 per metrik ton. Sedangkan akhir tahun harga akan berkisar RM 2.500-RM 2.610 per metrik ton.

Secara teknikal, Putu melihat harga saat ini bergulir di bawah moving average (MA) 50, MA100 dan MA200, menunjukkan peluang melemah jangka panjang. Garis moving average convergence divergence (MACD) di area negatif 20. Stochastic turun ke level 57 sedangkan relative strength index (RSI) menanjak ke level 37, menunjukkan potensi kenaikan jangka pendek.

Putu memprediksi harga CPO hari ini akan menguat dan bergerak antara RM 2.430-RM 2.490 per metrik ton. Sedang sepekan ke depan Wahyu memperkirakan harga bergerak di kisaran RM 2.360-RM 2.550 per metrik ton

PT KONTAK PERKASA FUTURES

Kinerja pekebun sawit mulai kembali subur

PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 03/04/2017 – Ladang bisnis emiten perkebunan kembali subur. Pada tahun lalu, kinerja keuangan sejumlah emiten produsen minyak sawit mentah (CPO) tumbuh positif.

Dari sisi top line, rata-rata emiten pekebun sawit mencetak pertumbuhan single digit. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) misalnya, mencatat pertumbuhan pendapatan sekitar 8,12% year-on-year (yoy) menjadi Rp 14,12 triliun sepanjang 2016.

Tapi dari sisi bottom line, AALI menjadi yang paling moncer. Laba bersihnya melonjak 225% menjadi Rp 2,01 triliun.

Emiten lain yang mencetak lonjakan laba bersih adalah PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO). Kenaikan labanya mencapai 78% (yoy) menjadi Rp 441,88 miliar.

Kinerja PT Sinarmas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) juga menarik. Tahun lalu, emiten ini mencetak laba bersih Rp 2,6 triliun dari setahun sebelumnya menderita kerugian Rp 386,17 miliar. pt kontak perkasa futures

Padahal, di saat yang sama, pendapatan SMAR turun sebesar 18% (yoy) menjadi Rp 29,75 triliun. Namun, sentimen positif kenaikan laba itu dibatasi kurang likuidnya saham SMAR.

Tapi, tidak semua emiten perkebunan mencatatkan kinerja positif. PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) misalnya. Entitas Grup Salim ini mencatat penurunan pendapatan 8% (yoy) menjadi Rp 3,85 triliun. Laba bersihnya juga menyusut 5% (yoy) menjadi Rp 593,83 miliar.

Hal serupa dialami PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG). Pendapatan DSNG turun 10% (yoy) menjadi Rp 3,94 triliun. Laba bersihnya Rp 250,71 miliar, turun 7% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Kendati demikian, prospek emiten CPO tahun ini masih lebih positif. Banyak faktor yang mendorong optimisme itu. “Salah satunya soal pembatasan lahan baru perkebunan,” ungkap Joni Wintarja, analis NH Korindo Securities Indonesia kepada KONTAN, belum lama ini.

Dengan luas lahan yang terbatas, otomatis pasokan melambat. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga CPO. PT KONTAK PERKASA FUTURES